Total Tayangan Halaman

Tampilkan postingan dengan label sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sastra. Tampilkan semua postingan

Senin, 16 Januari 2012

tentang hati


Tentang hati…..
tebat itu airnya begitu bening....hingga gemawan begitu cerlang menatap wajah nya dan langit sementara ikan kecil meriakan tatapan..hingga tawa berpijar-pijar dalam gerak kesungguhan bumi....biru.....putih....tali temali bermain dalam jeratan hati sanubari......kini..kemarin dan nanti...berganti cerita dan lakon....tebat itu tetap tempat bercermin langit dan gemawan..meski sesekali...angin mampir membasuh mukanya...yang berdebu dan berjelaga...sambil berkisah pengembaraan....

Jumat, 09 Desember 2011

kumpulan puisi ku

1.    Tentang hati…..
tebat itu airnya begitu bening....hingga gemawan begitu cerlang menatap wajah nya dan langit sementara ikan kecil meriakan tatapan..hingga tawa berpijar-pijar dalam gerak kesungguhan bumi....biru.....putih....tali temali bermain dalam jeratan hati sanubari......kini..kemarin dan nanti...berganti cerita dan lakon....tebat itu tetap tempat bercermin langit dan gemawan..meski sesekali...angin mampir membasuh mukanya...yang berdebu dan berjelaga...sambil berkisah pengembaraan....


















2.    SINGGASANA CINTA (2010)
DESEMBER 2010
Kemanisan cinta
Gorean Alfatihah dilangit senjakala
Kebagusan cinta
Lantunan sabdaMu dibibir teruna
Kehangatan cinta
Di shaf fajar sandiakala
Aroma cinta
Sayap kasihmu diwajah pecinta
Singgasana cinta
Tahtamu disudut jiwa musyafir lata














3.    TANPA
SEPTEMBER 2010
Tanpa ya, tak ada
Tidak
Tanpa tidak, tak ada
Ya
Tidak ada aku
Kau ada
Tanpa Kau
Tidak ada aku
Dipundaku kuminta
Dihatiku
Kau bertahta
Kau ada
Tanpa kuminta
Kau menyedia
Tanpa kuberharap
Kau memberi
Kau beri aku
Tanpa Kau
Aku
Tiada




4.    TASDIQ     (2010)
Saat kulihat mawar
Kurasa duri menelisik hati
Saat kulihat melati
Kurasa arai menjerat nurani
Saat kupandang pepohon
Ratap akar menyeruak otak
Saat kujamah bulan
Sesap pekat gulita  kutelan
    Tasdik atas
Mawar dan duri
Harum dan jerat
Kekuatan dan kerakat
Sinar dan gulita
    Tasdik atas
Terlihat, terasa, teraba
Dimanakah engkau Tasdik Qalbuku?









5.    PERTEMUAAN KEMBALI (2010)
Kufikir, kala otak terus berfikir
Kurasa, kala indra harus berasa
Kuingat, kala fikir harus mengingat
Kucoba, kala hasrat perlu mencoba
Kuraba, kala kulit melata
    Dimana?
Fikirku, rasaku, ingatku, hasratku, rabaku,
Kala panca indra pudar dalam satu
    Qolq-wala
    Caruk dipintu cakrawala
Fikir tak urung dzikir
Rasa tak urung dosa
Ingat tak urung noda
Hasrat tak urung asa
Coba tak urung doa
Raba tak urung norma
    Dimana?
Aku
Dia
    Hanya
Ada
    Dia
Dia
DIA

6.    Kompilasi anarkis    (2010)
Jelaga itu kian kental
Kental
Teguklah!
Karena semakin keruh aroma puing keangkuhan itu, semakin kental
Cawan menebal
Nanar dalam samar
Kata dan makna terasa hambar
Anugrah dan karma bertautan
Sebab dan akibat bertambatan
Ah,
Tak
Salah
Tak
Benar
Tak
Benar salah
Tak
Salah benar
Tak
Angin, udara, rupa, warna, disuling dalam satu saja
Kata, rasa, lusa, esok, kini, disunting dalam satu saja
Kau seduh dalam cawan berjelaga beraroma keangkuhan bermahkotakan kemegahan kesombongan bertahtakan kemegahan kerajaan keangkuhan yang, tak!
Seduhlah, reguklah!
Sisa tak
Ruang. Tak
























7.    PUTARKAN KU WAKTU ( 2010)
Kau menarik
Dan ku tak hendak
Kau menolak
Dan ku tak hendak
Kau sertakan
Dan ku tak hendk
Kau tinggalkan
Dan ku tak hendak
Kau sinarkan
Dan ku tak hendak
Kau biaskan
dan ku tak hendak
kau kuatkan
dan ku tak hendak
kau lemahkan
dan ku tak hendak
kau cintakan
dan ku tak hendak
kau bencikan
dan ku tak hendak
kau matahrikan
dan ku tak hendak
kau bulankan
dan kutak hendak
kala,
ku hendakkan
kau patahkan siang-siangku
dalam tahta malam yang balam
kau runtuhkan bulan bintang
dalam lembah batu gersang
kuhendakan,
kau lantunkan laguan kawi manis
dalam cawan tuba amis
kuhendakan,
pun kau lontarkan
















8.    DARI KATA  MU (2010)

Dari katamu terjatuh namaku
Dari katamu kulihat batin lukaku
Dari katamu kulihat perangahku
Dari katamu, kumarahku
Dari katamu, kuselimuti malu-ku
Dari katamu, kuradang kecewaku
Dari katamu, kutekan egoku
Dari katamu, kurasakan  nafas hitamku
Dari katamu, darahku putihku
Dari katamu
Entah ada aku













9.    PETA KEADILAN (1996)

Jelas kulihat
Gambar terhantar
Bersujud  pasrah
Menampar
Segala benar
Menyindir
Segala munafik
Manempik
Segala tengik
Menalar
Mencari ujung
    Kebijak?
Lupakan
Prosa kepagian










10.    PULANG (1995)

Sebuah  kata kulihat pulang
Lewat jendela ia terbang
Saat hati diketuk
Tak hendak yang lain masuk
Sebuah kata bersandar eja
Dibalik tirai simfoni masa
Setelah puas dalam kembara
Lewat jungkir baliknya fakta
    Sebuah eja riuh dalam cerita
Kalau kedatangannya kali kedua
Tak lagi menghantar warta
Karena kembara melupa muka
    Tak sua titik atau koma
Sambut kedangannya
Apatah lagi secangkir kopi
Lukrah dalam cawan pasi
    Tapi
Akankah kembara sua harapan
Dalam ruang kaidah kutipan
Tersedia sebuah kamar
Tuk beradu dalam dekapan samar



11.    PUISI WAJAH KUNING (1994)
Seraut wajah kuning
Pucat
Lekat menatap senja penat
Bermata surga
Berwajah neraka
    Menang?
Cerlak hijau jingga
Menetes dipipi sebagai sungai derita
Menukik di sungai kalbu hampa
Memekik
Puisi wajah pucat
Kemuning gugur di celak mawar
Gugur dikelopak, saatnya tidur
Wahai puisi wajah kuning.











12.    MENCARI  PAYAU (1994)

Gersah nafas dalam
Jauh dalam cengkraman aka-akar bakau
Sedekap angkuh
Mendera bumi
Maracau hati
Mendamba angin
Merindu alun
Menjaring kelam
    Menynyialh kebayang-kelaut
Biru langit masih berpuisi
Kepadang masih bersajak
Kemimpi masih berlari
Lusa dan esok kati tertikam duri
Puas pungguk dipuncak bakau merangkul rindu
Akan rembulan yang jua menunggu
Dan bakau tetap menghujam angkuh dalam semu.








13.    Satu dunia (1991)
(mimpi)

Haya, jarak membentang
Tak jurang
Ada harap membentang
Sebagai jembatan
Kemarin benag-benang tejalin
Sutra emas dari benag-benag ketulusan
Menjuntai hingga tiada kelaliman
Tak sanggup menjangkau
Mampu menepiskan
    Dan dalam ngarai batinku
Sungai mengalir tenang
Menghanyutkan kegrirsan
Pedih dan peri berhamburan
Mangyuh lah sampai tujuan










14.    GUNTUR  (1991)
Sekilas
Selintas
Aku puas
    Waktu
Aku mau
    Kau kembali
    Ku tak sudi
Kau datang
Kau hilang

15.    Villa violetta (1991)

Senja membumbung tinggi
Mengetuk gerbang sunyi
Dan mentari tertegun sedari tadi
Dipintu lazuardi
    Senja ungu lalu pergi
    Tinggalah segalur sunyi
    Katup dalam sayap-sayap ilusi
    Merajut harap dalam mimpi
Senja terbang menerawang
Membawa bimbang
Serpihan goresan bersenandung
Berlagu dendang dalam kidung

16.    Bunga Tasbih  (1992)

Sedari fajar berharap ligar
Berteman titik embun merayap menjalar
Kuntum tasbih kian anggun
Dalam semi kebun-kebun pengharapan
    Sampai siang menghantarkan
    Ligarla ia dalam taman
    Namun sejurus, seorang gadis kecil
    Memetik dan menghiaskannya dalam kuku angkuh yang mungil
    Warna merah mulai pudar
    Kuntum terkoyak dan tercampak, senyumnya sirna menggelepar.














17.    Catatan Harian (1995)

Selembar hari robek
Kenangan rontok

Mentari sontak
Harapan porak

Rembulan pulang ke ibu
Malam menabur  waktu
Cahaya perlahan mati
Jiwa terkubur sunyi

Nirwana menari angin
Selendag jatuh dibukit di embun
Tatapnya burai dalam renyai hujan

Lara dan tawa berlarian
Sebagai anak dipangkuan
Rabu dalam goresan
Tumpah dalam lembar halaman





18.    SESAL (1995)

Tak lagi hitam
Disunting putih
Tak telaga
Dipeluk mega
Tak lagi mawar
Berseri harum

Tak lagi bukit
Berlindung gemunung
hanya lembah rebah dalam resah
hanya semilir bernyanyi getir

dan tawa basi sisa pesta malam kemarin
terseok dalam gumam di labirin
terusir ke lembah amral
jatuh tersungkur


kalam tujuh
di batu ia terjatuh
terhempaslah kayuh
saat dayung tiada terengkuh
lepaslah tuju dan arah.

19.    PARODI IMAJI (95)
HATI
saat gerimis sore hari
melati  jatuhkan kelopak suci
dihempas angin dari nagari

BUAT SOBAT
Seekor semut merangkak
Pada kerikil basah

REP
Diterik
Dicoba mengusik asap
Dicermin fajar sodik
Dijubah asyiri
REL
Aku hanya sebuah sinonim
Dari harapan ke mimipi
Kebatu nisan
WAJAH
Cerita sukma
Pada rona senja
CERITA
Dikubur tua
Pengemis menyindir mati
Malaikat ditunjuk jari
PAYAU
    Sebuah batu nisa
Bukan, bukan!
Bukan dolmen
Ayah!

MIMPI
Seutas dawai
Tentang laguan orkestra malam
Syimphoni terjuntai
Saat fajar usai















20.    Mencari bayang (95)

Mentari bercermin di halaman
Mengharap sepiring sarapan
Atau sepotong senyuman
Dari gadis Penghantar nasi uduk di sudut zaman
Mengusung janji di cermin lukman

Ha-rut
Luruh cahya di embun zurum
Dipepucuk istana harem

Hitam jingga singgah dikarapan masa.













21.    Lingkar lara (1994)

Dulu duka
Dikau
Diam dalam
Dikau.
Daku uraikan tawa
Lara dikau, bawa daku.

22.    REMBULAN KE PELITA (94)

Mencari bayang di bawah purnama
Saat kutatap
Tubuh lalar beribu bayang
Bertelau manimbun waktu











23.    BIARKAN     (94)

Biarkan angin menarikan daun
Biarkan mentari menghisap embun
Biarkan tawa menyibak makna
Lewat air mata

Biarkan langit memeluk laut
Biarkan kata kembali pulang
Biarkan bahasa bertumpu harapan,
Tanpa hati tanpa suara, seribu kata tak berwujud makna.


24.    KEMATIAN 2 (94)
Setelah arta Wafat
Ada hari kisat
Entah- tiga
Masihkah ada empat
Dibawah altar
Yang membawa arta
Menginjak akhirat.




25.    SENGAU LAUTKU (96)

Nafasmu
Hangatmu
Buih.
Lukamu
Resahmu
    Deburkan ombak
Jeritmu
Bisumu
Biru wajahmu
    Berkaca langit
Jelitamu antarkan tangis lazuardi
Nyanyianmu tenangkan camar terluka
Wajahmu benamkan hasrat petualang muda
Tenang mu teriakan gemuruh bisu dalam gema.










26.    SATIRE PERMAINAN (96)

Kuingin ayah mengukir senjaku
Sat bunda merajutkan malam
Kuingin bunda menyulam fajar
Saat ayah meramukan siang
    Aku termangu di ujung labirin
Menatap hariku ditelapak
Entah berapa senja kutangkap
Dari permainan raja dan ratu

Entah berapa fajar aku tanak
Saat lapar mengoda niat
Yang kutahu, hariku tumpah ruah
Dalam cawan doa dan dosa
Pun saat dingin
Tak hendak aku reguk
Pelak hajat melawat
Laknat







27.    TITIPIAN (90)

Saat awan melintas, dengarlah!
Kutitipkan sebilah hati untuknya. Karibku...
Taburkan dalam hatinya benih itu lewat sejuk, teduh, dan renyai hujamu..
Telah ku tabur kataku lewat bayang dan putih mu kini dan nanti.




















28.    TEPI TIPU (1994

Dari araha
Ke abrahah
    Ada pecut
Nyawa dilecut
Darah meleleh
Dileher Hamzah
    Dari puncak hitam
    Kesudut flamboyant
Ada aurora
Mengais dewa
    Tercampak
    Latta-uzza
Ada luka sekarat
    Dihantar manat
Ada biru
Ditepi bisu
    Ada rasa
    Dihalau sakit

    Ada tuba
    Direguk mega



29.    HASRAT  (95)

Melagu ke air
    Muka
Merayu ke angin
    Luka
Hasrat ke batin jua
    Tak ada


















30.    TANAH SELINDUNG  (89)

Di sisni tanah selindung
Tempat kita melangkah dan berpijak
Disini tanah selindung
Tempat kita bercanda  dan gelak
    Apakah suratan tlah teroreskan
    Hingga sepatah kata telah terlantun
    Ditelan temaram
    Dimangsa keserakahan
Disini tanah selindung
Tempat kita kecil merangkak
Yang tak lama berarak teratak
Hanya senandung kasih yang terkuak
    Bak benang sutra terbentang
    Hingga mentari beradu disinggasana
    Dan nuansa dalam lukisan
    Harap dan kenang berpelukan








31.    Dangding lagu tidur  (88)

Kuayun kau melodi
Permata pujaan hati
Denting sebarku gelitik kantukmu
    Kau sayu dalam lagu
    Kau lena dalam teja
    Selamat malam adinda


















32.    INTERPRETASI CHANG (95)

Laut gelora berlari kepucuk cemara. Angin meliuk memeluk bukit merasuk nadir.
Nafas mengalir di bukit-bukit keangkuhan. Detak yang kering memekinan langit meruntuh jagat merobek pelangi!
Pagi menyapa perempuan tua hati.
o. mawar. Lelaki tua bermimpi memetik rembulan. Memanjat altar menyulam nirwana kemarau, bumi kerontang hati meradang. Tak kebintang tak kehati. Tak. Serunai lirih mengiris-iris labirin di tepi jurang sepi mencakung. Teriak memekikan laut membuncah dalam amarah. Menumphkan langit dalam gersah.
O. malaikat kecil memuncak pucuk langit Kereta petir rinkih memerih dalam jerit. Mata belia patahkan embun di lusa hari.
Melancong altar di atap oda. Lewat hyra ke alam kepeluk kearati. …..Mati.













33.    PILAR (89)

Kukuh kaku
Lara.
Diam.
Kelam
Kaku.
Layu.
Kau.
Bukan pilarku
Kau bukan rumahku
Kau bukan langitku, hujanku, sejuku, bukan geloraku!
Pilarku dalam jaga rayaku
Bumiku sendiri
Dalam atap kosong.











34.    KUCARI (90)

Kucari dalam puisi
Kemana sungai mengalirkan tinta batinku yang luruh tatkala gerimis mengiris bumi.
Kucari, sampai asaku terdampar pada snar yang terjuntai kerna liriknya tak pernah kembali. Di Karin ia karibku.
Ah. Puisiku, puiSiku lukrah, tercecer dalam rak fikirku yang hampir sirna.


















35.    SYMFHONY MALAM TELANJANG (90)

Diremang senja
Bulan bintang melangkah gontai
Hanya karena patri janji
Mereka senantiasa kembali.

Lazuardi menyisaka segores jingga dikening rona
Dicoba tersenyum dalam tebat bahagia
Pun saat berkaca,. Semua mulai sirna
Tiada siang bermuka
Tiada fajar beraroma
Tiada balam bersua suara

Bahkan sayap terentang enggan
Semua singgasana telah hampa
Segala segara tak bermuara
Tiadak lagi berbusana
Hanya keangkuhan sunyi dan derita yang tampil berjelaga.







36.    TAMBESI (90)

Tambesi di tepi pantai
Ia bercakap
Tambesi ditubir ngarai
Diam  dalam sedekap
Tambesi ditepi daiau
Sedan dalam gurau
Tambesi berpohon, berumput, tapi
Tambesi berhenti berhati
Nurani tambesi tersungkur, terkapar,
Tambesi ingkar pada semua penantian.
Tambesi sendirian.













37.    BIANGLALA (90)

Kita pernah sua?
Saat gerimis renyai kau terjuntai lunglai
Sepatah kata kau lempar
Seikat janji kau hantar
Semangkuk sumpah kau tebar
Saat gerimis berakhir
Sebongkah luka cakar tergambar nanar samar
Adakah kiata sua?
Kala kau lukis nurani
Kau lemparkan senyum dalam titik hujan
Candamu sedan
Tawamu kehancuran












38.    DIAN KELANA  (90)
Pekat melekat
Lukrah dalam penat
Adalah siang bertandang garang
Menghisap segala kenang
Seribu nuansa mengering
Melaku lakon dalam kayon
Siang malam bergantian
Terang pekat berpelukan
Nuansa dan asa bertebaran
Pekat sirna dalam terang
Wangi harap kian merabukan














39.    LAGUAN KAWI PAGI  (91)

Cercah sinar  nan cerah
Menyibak cakrawala kala terjaga
Bersama embun zurum yang anggun
Menyapu halus wajah pagi yang ranum
    Rekatan intari mengembang
    Bersama terucap slamat datang
    Wahai teruna gandang
    Menebar aroma dalam selendang
Sempat sua ilusi dan mimpi
Namun sirna dalam buai intari
Jangkau hati dalam lambirin suci













40.    AUGUSTA 307
(agustus 2011)
Mentari menarik sisa muka
Dan angin menampik sisi cerita maya
Sementar sunyi bergalur mematut luka
Pada penghujung aroma nada

Sambng sinambung antar cerita
Walau memang tiada tuah dan tawa
Sementara tinta tiada bernoda
Dan harap tak muara doa.

Jalin setiap laguan kawi memilin perih syimphoni kemarin
Dalam ku arin rinduku pada merah luah luka mengucur darah
Lalu dimana kemboja lunglai aku titipkan
Karena tiap lembar cerita menampik gugurnya di tanah rowah

Rambut kasih terjuntai dalam keheningan senja
Dan cerita berbisik sunyi lirih dan rela
Sementara orchestra tetap saja mewarna rona
Walau langit enggan menepis air mata

Begitu manis air mata mencekik lara
Memerah dunia maya
Manakala enggan dan ingin bertaut
Dan seribu wajah satu per satu kian larut



3    februai 2012...

41.    SELENDANG SUNYI
Senandung sunyi menari-nari
Ditubi juang tiada tepi
Tersungging sayap seriti
Dalam nyanyian sunyi
Lambaian sisa intari
Seakan enggan menepi
Saat ku gapai
Kau pergi dengan lunglai

42.    KASIH
Kulihat jalan membentang
Diatas sajadah memanjang
Memandang wajahku saat kulumat
Segala dosa sesal dengan khidmat
Wahai
Kasih dalam diam
Cinta dalam semayam
Wahai
Tempat lautan luka nan dalam
sirna aku dalam hampa
penuh aku dalam harap haya
senyum kasih nampakMu
saat kucumbu
ujung sajadahku
43.    SATIRE  ‘munafik’
Juntai aku dalam selaksa hayal
Saat angan kau robek dalam humbalang samudra sesal
Kala kulihat kali kedua
Kau tiada tampak nyata
Hanya luka yang kau muntahkan
Dalam tatap dan kesap semangkuk senyuman
Kau lempar telak
Pada wajahku tiada jarak
Kau sulam cintaku dalam nanah dan borok
Yang tiap hela kau hendak
Kau usap dalam pedih yang menampik












   

kumpulan puisi ku


Alamat soni farrid maulana
Soni Farid Maulana
Jln. Mekar V Blok 2 D-7
Komp. Bumi Asri Mekar Rahayu
Bandung 40218
Tentang hati…..
tebat itu airnya begitu bening....hingga gemawan begitu cerlang menatap wajah nya dan langit sementara ikan kecil meriakan tatapan..hingga tawa berpijar-pijar dalam gerak kesungguhan bumi....biru.....putih....tali temali bermain dalam jeratan hati sanubari......kini..kemarin dan nanti...berganti cerita dan lakon....tebat itu tetap tempat bercermin langit dan gemawan..meski sesekali...angin mampir membasuh mukanya...yang berdebu dan berjelaga...sambil berkisah pengembaraan....


















SINGGASANA CINTA (2010)
DESEMBER 2010
Kemanisan cinta
Gorean Alfatihah dilangit senjakala
Kebagusan cinta
Lantunan sabdaMu dibibir teruna
Kehangatan cinta
Di shaf fajar sandiakala
Aroma cinta
Sayap kasihmu diwajah pecinta
Singgasana cinta
Tahtamu disudut jiwa musyafir lata














TANPA
SEPTEMBER 2010
Tanpa ya, tak ada
Tidak
Tanpa tidak, tak ada
Ya
Tidak ada aku
Kau ada
Tanpa Kau
Tidak ada aku
Dipundaku kuminta
Dihatiku
Kau bertahta
Kau ada
Tanpa kuminta
Kau menyedia
Tanpa kuberharap
Kau memberi
Kau beri aku
Tanpa Kau
Aku
Tiada




TASDIQ       (2010)
Saat kulihat mawar
Kurasa duri menelisik hati
Saat kulihat melati
Kurasa arai menjerat nurani
Saat kupandang pepohon
Ratap akar menyeruak otak
Saat kujamah bulan
Sesap pekat gulita  kutelan
    Tasdik atas
Mawar dan duri
Harum dan jerat
Kekuatan dan kerakat
Sinar dan gulita
    Tasdik atas
Terlihat, terasa, teraba
Dimanakah engkau Tasdik Qalbuku?









PERTEMUAAN KEMBALI (2010)
Kufikir, kala otak terus berfikir
Kurasa, kala indra harus berasa
Kuingat, kala fikir harus mengingat
Kucoba, kala hasrat perlu mencoba
Kuraba, kala kulit melata
                       Dimana?
Fikirku, rasaku, ingatku, hasratku, rabaku,
Kala panca indra pudar dalam satu
                       Qolq-wala
                       Caruk dipintu cakrawala
Fikir tak urung dzikir
Rasa tak urung dosa
Ingat tak urung noda
Hasrat tak urung asa
Coba tak urung doa
Raba tak urung norma
                       Dimana?
Aku
Dia
                       Hanya
Ada
                       Dia
Dia
DIA

Kompilasi anarkis    (2010)
Jelaga itu kian kental
Kental
Teguklah!
Karena semakin keruh aroma puing keangkuhan itu, semakin kental
Cawan menebal
Nanar dalam samar
Kata dan makna terasa hambar
Anugrah dan karma bertautan
Sebab dan akibat bertambatan
Ah,
Tak
Salah
Tak
Benar
Tak
Benar salah
Tak
Salah benar
Tak
Angin, udara, rupa, warna, disuling dalam satu saja
Kata, rasa, lusa, esok, kini, disunting dalam satu saja
Kau seduh dalam cawan berjelaga beraroma keangkuhan bermahkotakan kemegahan kesombongan bertahtakan kemegahan kerajaan keangkuhan yang, tak!
Seduhlah, reguklah!
Sisa tak
Ruang. Tak
























PUTARKAN KU WAKTU ( 2010)
Kau menarik
Dan ku tak hendak
Kau menolak
Dan ku tak hendak
Kau sertakan
Dan ku tak hendk
Kau tinggalkan
Dan ku tak hendak
Kau sinarkan
Dan ku tak hendak
Kau biaskan
dan ku tak hendak
kau kuatkan
dan ku tak hendak
kau lemahkan
dan ku tak hendak
kau cintakan
dan ku tak hendak
kau bencikan
dan ku tak hendak
kau matahrikan
dan ku tak hendak
kau bulankan
dan kutak hendak
kala,
ku hendakkan
kau patahkan siang-siangku
dalam tahta malam yang balam
kau runtuhkan bulan bintang
dalam lembah batu gersang
kuhendakan,
kau lantunkan laguan kawi manis
dalam cawan tuba amis
kuhendakan,
pun kau lontarkan
















DARI KATA  MU (2010)

Dari katamu terjatuh namaku
Dari katamu kulihat batin lukaku
Dari katamu kulihat perangahku
Dari katamu, kumarahku
Dari katamu, kuselimuti malu-ku
Dari katamu, kuradang kecewaku
Dari katamu, kutekan egoku
Dari katamu, kurasakan  nafas hitamku
Dari katamu, darahku putihku
Dari katamu
Entah ada aku













PETA KEADILAN (1996)

Jelas kulihat
Gambar terhantar
Bersujud  pasrah
Menampar
Segala benar
Menyindir
Segala munafik
Manempik
Segala tengik
Menalar
Mencari ujung
        Kebijak?
Lupakan
Prosa kepagian










PULANG (1995)

Sebuah  kata kulihat pulang
Lewat jendela ia terbang
Saat hati diketuk
Tak hendak yang lain masuk
Sebuah kata bersandar eja
Dibalik tirai simfoni masa
Setelah puas dalam kembara
Lewat jungkir baliknya fakta
Sebuah eja riuh dalam cerita
Kalau kedatangannya kali kedua
Tak lagi menghantar warta
Karena kembara melupa muka
Tak sua titik atau koma
Sambut kedangannya
Apatah lagi secangkir kopi
Lukrah dalam cawan pasi
Tapi
Akankah kembara sua harapan
Dalam ruang kaidah kutipan
Tersedia sebuah kamar
Tuk beradu dalam dekapan samar



PUISI WAJAH KUNING (1994)
Seraut wajah kuning
Pucat
Lekat menatap senja penat
Bermata surga
Berwajah neraka
      Menang?
Cerlak hijau jingga
Menetes dipipi sebagai sungai derita
Menukik di sungai kalbu hampa
Memekik
Puisi wajah pucat
Kemuning gugur di celak mawar
Gugur dikelopak, saatnya tidur
Wahai puisi wajah kuning.











MENCARI  PAYAU (1994)

Gersah nafas dalam
Jauh dalam cengkraman aka-akar bakau
Sedekap angkuh
Mendera bumi
Maracau hati
Mendamba angin
Merindu alun
Menjaring kelam
Menynyialh kebayang-kelaut
Biru langit masih berpuisi
Kepadang masih bersajak
Kemimpi masih berlari
Lusa dan esok kati tertikam duri
Puas pungguk dipuncak bakau merangkul rindu
Akan rembulan yang jua menunggu
Dan bakau tetap menghujam angkuh dalam semu.








Satu dunia (1991)

Haya, jarak membentang
Tak jurang
Ada harap membentang
Sebagai jembatan
Kemarin benag-benang tejalin
Sutra emas dari benag-benag ketulusan
Menjuntai hingga tiada kelaliman
Tak sanggup menjangkau
Mampu menepiskan
   Dan dalam ngarai batinku
Sungai mengalir tenang
Menghanyutkan kegrirsan
Pedih dan peri berhamburan
Mangyuh lah sampai tujuan










GUNTUR  (1991)
Sekilas
Selintas
Aku puas
       Waktu
Aku mau
       Kau kembali
       Ku tak sudi
Kau datang
Kau hilang

Villa violetta (1991)

Senja membumbung tinggi
Mengetuk gerbang sunyi
Dan mentari tertegun sedari tadi
Dipintu lazuardi
  Senja ungu lalu pergi
  Tinggalah segalur sunyi

Monolog DEMOKRASI karya Putu Wijaya


DEMOKRASI

(DAPAT DIMAINKAN OLEH LELAKI ATAU PEREMPUAN)
SEORANG WARGA DESA YANG TANAHNYA KENA GUSUR MEMBAWA PLAKAT BERISI TULISAN DEMOKRASI. SETELAH MEMANDANG DAN PENONTON SIAP MENDENGAR, IA BERBICARA LANGSUNG.
Saya mencintai demokrasi. Tapi karena saya rakyat kecil, saya tidak kelihatan sebagai pejuang, apalagi pahlawan. Namun, saya tak pernah masuk koran. Potret saya tak jadi tontonan orang. Saya hanya berjuang di lingkungan RT gang Gugus Depan.
Di RT yang saya pimpin itu, seluruh warga pro demokrasi. Mereka mendukung tanpa syarat pelaksanaan demokrasi. Dengan beringas mereka akan berkoar kalau ada yang anti demokrasi. Dengan gampang saya bisa mengerahkan mereka untuk maju demi mempertahankan demokrasi. Semua kompak kalau sudah membela demokrasi.
MENGACUNGKAN PLAKATNYA.
Demokrasi!
TERDENGAR SERUAN WARGA BERSEMANGAT MENYAMBUT : DEMOKRASI!
Demokrasi!
SERUAN LEBIH HANGAT LAGI :
Demokrasi!
SERUAN GEGAP GEMPITA : DEMOKRASI! IA MENURUNKAN PLAKAT.
Bener kan? Hanya salahnya sedikit, tak seorang pun yang benar-benar mengerti apa arti demokrasi.
MENIRUKAN SALAH SEORANG WARGANYA.
“Pokoknya demokrasi itu bagus. Sesuatu yang layak diperjuangkan sampai titik darah penghabisan. Sesuatu yang memerlukan pengorbanan besar. Sesuatu yang menunjang suksesnya pembangunan menuju ke masyarakat yang adil dan makmur.” Kata mereka.
Saya kira itu sudah cukup. Saya sendiri tak mampu menerangkan apa arti demokrasi. Saya tidak terlatih untuk menjadi juru penerang. Saya khawatir kalau batasan-batasan saya tentang demokrasi disalahgunakan. Apalagi kalau sampai terjadi perbedaan tafsir yang dapat menjadikannya kemudian bertolak belakang. Atau mungkin, karena saya sendiri tidak benar-benar tahu apa arti demokrasi.
Pada suatu kali, RT kami yang membentang sepanjang gang Gugus Depan dapat kunjungan petugas yang mengaku datang dari kelurahan. Pasalnya akan diadakan pelebaran jalan, sehingga setiap rumah akan dicabik dua meter. Petugas itu menghimbau, agar kami, seperti juga warga yang lain, merelakan kehilangan itu, demi kepentingan bersama.
MENIRUKAN PETUGAS.
“Walaupun hanya dua meter, tapi sumbangan saudara-saudara sangat penting artinya bagi pengembangan dan kepentingan kita bersama di masa yang akan datang. Atas nama kemanusiaan kami harap saudara-saudara mengerti.”
NAMPAK BINGUNG.
Warga kami tercengang. Hanya dua meter? Kok enak saja mengambil dua meter, demi pembangunan. Pembangunan siapa? Bagaimana kalau rumah kami hanya enam meter kali empat. Kalau diambil dua meter kali enam, rumah hanya akan cukup untuk gang. Kontan kami tolak. Bagaimana bisa hidup dalam gang dengan rata-rata lima orang anak?
Tidak bisa itu tidak mungkin!
“Tapi ini sudah merupakan keputusan bersama,” kata petugas tersebut.
Kami semakin tercengang saja. Bagaimana mungkin membuat keputusan bersama tentang rumah kami, tanpa rembukan dengan kami. Sepeti raja Nero saja.
“Soalnya masyarakat di sebelah sana,” lanjut petugas itu sambil menunjuk ke kampung di sebelah, “mereka semuanya adalah karyawan yang aktif pabrik tekstil. Semua memerlukan jalan tembus yang bisa dilalui oleh kendaraan. Dengan difungsikannya gang Gugus Depan ini menjadi jalan yang tembus kendaraan bermotor, mobilitas warga yang hendak masuk ke pekerjaan atau pulang lebih cepat. Itu berarti efisiensi dan efektivitas kerja. Mikrolet dan bajaj akan bisa masuk. Itu akan merupakan sumbangan pada pembangunan. Dan pembangunan itu akan dinikmati juga oleh kampung di sebelahnya, karena sudah diperhitungkan masak-masak.”
Diperhitungkan masak-masak bagaimana? Kami tidak pernah ditanya apa-apa? Tanah ini milik kami, bantah saya.
Tak lama kemudian, sejumlah warga dari kiri kanan kami datang. Mereka menghimbau agar kami mengerti persoalan kami. Mereka mengatakan dengan sedikit pengorbanan itu, ratusan kepala keluarga dari kiri kanan kami akan tertolong. Mereka menggambarkannya sebagai perbuatan yang mulia. Setelah menghimbau mereka mengingatkan sekali lagi, betapa pentingnya pelebaran jalan itu. Setelah itu mereka mengisyaratkan betapa tak menolongnya kalau kami tidak menyetujui usul itu. Dan setelah itu mereka mewanti-wanti, kalau tidak bisa dikatakan mengancam.
MENIRUKAN WARGA KAMPUNG SEBELAH.
Kalau saudara-saudara menghambat, menghalang-halangi atau berbuat yang tidak-tidak sehingga pelebaran jalan itu tak dilaksanakan, sesuatu yang buruk akan terjadi.
NAMPAK MAKIN BINGUNG.
Berbuat yang tidak-tidak? Tidak-tidak apa? Kami terjepit di antara kepentingan orang banyak . Belum lagi kami sempat bikin rapat untuk melakukan perundingan, pelebaran jalan itu sudah dilaksanakan.
TERDENGAR SUARA MESIN MENGERAM.
Tanpa minta ijin lagi, sebuah bulldozer muncul dan menggaruk dua meter wilayah RT kami. Warga kami panik. Jangan! Jangan! Ini tanah kami. Sejak nenek-moyang kami sudah di sini. Dulu kakek-kakek kami tanahnya lebar, tiap orang punya tegalan dan dua tiga rumah, tapi semua itu sudah dibagi-bagi anak cucu, ada yang sudah dijual. Tapi ini tanah warisan.
Bulldozer itu tidak peduli. Mereka terus juga menggaruk. Jangan Pak! Jangan! Kalau Bapak ambil dua meter, rumah kami tinggal kandang ayam. Kami tidak mau kampung kami dijadikan jalan. Nanti ke mana anak-anak kami akan berteduh?
Jangan! Jangan Pak! Kita belum selesai berunding! Kami tidak pernah bilang setuju! Diganti berapa pun kami tidak akan mau. Ini harta kami satu-satunya sekarang.
Jangan Pak!
Tapi bulldozer itu terus juga menyeruduk dengan buas. Sopirnya tidak peduli. Dia hanya menjalankan tugas. Akhirnya kami tidak bisa diam saja. Kami semua terpaksa melawan. Saya tidak bisa mencegah warga rame-rame keluar dari rumah. Mereka berdiri di depan bulldozer itu.
Ini tanah kami, akan kami pertahankan mati-matian. Dibeli ratusan juta juga kami tidak sudi, sebab kami tidak mau pindah dari tempat nenek moyang kami. Anak-anak dan perempuan kami pasang di depan, sesudah itu orang-orang tua, lalu saya dan bapak-bapaknya.
Baru bulldozer itu berhenti.
SUARA MESIN BERHENTI. SENYAP..
Sopir yang menjalankan bulldozer itu ngeper juga melihat kami. Dia turun dari kendaraan dan berunding dengan teman-temannya. Kami menunggu apa yang akan terjadi. Lama juga mereka berunding. Beberapa anak main-main mendekati bulldozer itu dan memegang-megangnya. Kendaraan itu kuat, baru, dan bagus. Beberapa ibu-ibu duduk di jalan meneteki anak-anaknya. Saya sendiri mengambil keputusan kencing karena terlalu tegang.
Akhirnya mereka selesai berunding. Sopir itu kembali naik ke atas bulldozernya. Dia tersenyum. Kami merasa lega. Mereka pasti baru menyadari mereka sudah salah. Mesin dihidupkan kembali.
KEMBALI SUARA MENGERAM.
Kami menunggu dengan deg-degan. Waktu itu sebuah mobil colt datang. Sekitar sepuluh orang laki-laki meloncat turun dengan memakai pakaian seragam. Kami besorak, melihat akhirnya aparat datang untuk melindungi rakyat. Tapi berbareng dengan itu bulldozer itu menerjang kembali ke depan menggaruk tanah. Perempuan-perempuan itu menjerit. Beberapa anak jatuh, salah seorang diantaranya kena garuk. Untung ada yang meloncat naik dan menarik anak itu. Keadaan jadi kacau.
Orang-orang berseragam itu berlarian datang. Ternyata mereka bukan petugas, tetapi satpam yang mau mengamankan penggarukan. Mereka membawa pentungan yang sudah siap untuk memukul. Kami seperti kucing yang kepepet. Tanpa diberi komando lagi, kami melawan.
Anak-anak mengambil batu dan melempar. Asep, bapak anak yang hampir kena garuk bulldozer itu meloncat ke atas bulldozer, mau menarik sopirnya. Tapi tiba-tiba sopir bulldozer itu menghunus parang yang disembunyikannya di bawah tempat duduk, langsung membacok pundak Asep.
Asep tumbang berlurumuran darah. Perempuan-perempuan dan anak-anak menjerit, lalu kabur menyelamatkan diri. Kami para lelaki hampir saja mau meyerang, tapi kemudian sebuah truk datang. Puluhan orang yang kelihatan ganas-ganas melompat turun dan menerjang kami sambil membawa senjata tajam. Saya kenal salah satu di antaranya bajingan di Proyek Senen.
Kami terpaksa mundur. Saya melarikan Asep ke rumah sakit. Untung saja tidak lewat. Barangkali pembacoknya memang tidak berniat membunuh, hanya kasih peringatan.
MELETAKKAN PLAKAT. LALU MEMBUKA PAKAIANNYA, SALIN.
Saya bingung. Akhirnya setelah putar otak, saya beranikan diri mengunjungi pabrik tekstil, majikan warga yang menginginkan jalan pintas itu. Saya memakai batik (kebaya dan jarik kalau pemainnya perempuan) supaya kelihatan resmi dan sedikit dipandang.
MEMAKAI BATIK/JARIK.
Tapi susah sekali. Orangnya selalu tidak di tempat. Baru setelah mengaku petugas kelurahan, akhirnya saya diterima.
Direktur itu kaget setelah mengetahui saya bukan petugas tapi korban penggusuran. Tetapi ia cepat tersenyum ramah, lalu mengguncang tangan saya. Begitu saya semprot bahwa kami tak sudi dipangkas, dia bingung. Kepalanya geleng-geleng seperti tak percaya. Lalu ia memanggil sekretaris. Setelah berunding bisik-bisik, ia kembali memandangi saya seperti orang stress.
MENIRUKAN DIREKTUR PABRIK TEKSTIL YANG DIALEKNYA RADA CADEL/ASING.
“Tuhan Maha Besar, saya tidak tahu ini. Saya minta maaf. Saya tidak memperbolehkan siapa saja membuat tindakan-tindakan pribadi atas nama perusahaan. Para karyawan sudah diberi uang transport. Kalau mereka perlu jalan pintas, mungkin karena ingin menyelamatkan uang transport itu. Itu di luar tanggung jawab perusahaan. Pembuatan jalan itu bukan tanggung jawab kami. Saya minta maaf. Saya mohon anda menyampaikan rasa maaf saya kepada seluruh warga,” katanya dengan sungguh-sungguh.
Saya mulai senewen. Saya tak percaya apa yang dikatakannya. Ini sandiwara apa lagi. Saya bukan orang bodoh, saya tidak mau dikibulin mentah-mentah begitu. Saya tahu dia hanya pura-pura. Mulutnya yang manis, tingkah lakunya yang sopan itu tidak bisa mengelabui saya. Saya bisa mengendus apa yang disembunyikannya di balik topengnya itu. Orang kaya raya begitu, berpendidikan tinggi, luas pandangannya, pasti tahu apa sebenarnya yang terjadi. Tidak mungkin dia tidak paham apa artinya dua meter tanah buat kami, meskipun bagi dia 200 hektar itu hanya seperti upil. Orang yang pasti sudah bolak-balik ke luar negeri itu masa tidak tahu, kami, paling sedikit saya ini tahu, bukannya para karyawannya itu yang serakah mau menyelamatkan uang makan, tapi dia sendiri yang memang mau mencaplok pemukiman kami. Nanti lihat saja, kalau jalan sudah dibuat, uang makan akan distop, karyawannya akan disuruh jalan kaki datang. Tai kucing, Rai gedek! Sudah konglomerat begitu, menyelamatkan uang receh saja pakai menyembelih rakyat.
Aku tahu! Aku tahu! Kasih tahu warga semuanya apa yang sudah terjadi. Aku adukan nanti kepada Jaksa Agung! Beliau itu dulu waktu masih miskin sering mampir di warung saya! Biar orang semacam ini ditindak. Asu! (MENYUMPAH-NYUMPAH KOTOR DALAM BAHASA DAERAH)
DIA MENYABARKAN DIRINYA, KARENA KATA-KATANYA SEPERTI SUDAH TAK TERKENDALI.
Betul. Orang kecil seperti saya ini memang kelihatannya lemah dan gampang ditipu. Karena kami sadar pada diri kami sehingga kami selalu menahan diri. Tapi kalau sudah kebangetan seperti ini, saya meledak juga. Semut pun kalau diinjak terus akan menggigit.
Karena terlalu marah, saya tidak bisa ngomong lagi. Muka saya saja yang kelihatan merah. Dia mengerti. Saya siap untuk meledak. Dia semakin marah, semakin halus bicaranya. Saya diperlakukan sebagai tamu terhormat. Tapi saya terus maju. Ini perjuangan.
Dia menyuguhkan makanan dan minuman. Saya tolak. Saya datang bukan untuk bertamu atau ramah-tamah. Saya membawa suara rakyat, menuntut keadilan. Keadilan untuk kami saja.
Kami tidak minta apa-apa, kami hanya minta tanah kami yang dua meter itu jangan diganggu. Itu hak kami! Titik.
Di atas meja dihidangkan kue-kue yang lezat. Hhhh! Tapi saya tidak sudi menjamah, Sebelum tuntutan kami didengarkan. Dia mencoba bertanya tentang keluarga saya, anak saya kelas berapa. Ah, itu kuno. Saya tahu itu taktik untuk memancing pengertian.
Dia juga berbasa-basi menanyakan bagaimana keadaan Asep. Lho saya jadi tambah curiga. Jadi dia tahu sekali apa yang terjadi. Mungkin dia yang menyuruh sopir itu membacok Asep, karena Asep juga pernah memprotes pembungan limbah dari pabrik yang mengalir ke selokan di depan rumah kami.
Saya bertekad, saya tidak akan pergi dari kantor itu sebelum ada keputusan membatalkan perampokan dua meter tanah kami untuk jalan. Saya ditunggu oleh warga.
Saya hanya mau pergi kalau ada keputusan yang menguntungkan rakyat kecil!
Akhirnya dia mengangguk, tanda dia mengerti. Kemudian dia menunduk dan membuka laci mejanya mengambil kertas. Saya bersorak dalam hati. Akhirnya memang kunci segala-galanya pada kegigihan. Kalau kita getol berjuang pasti akan berhasil.
Tetapi kemudian darah saya tersirap, karena direktur itu mengulurkan kepada saya sebuah amplop coklat yang tebal. Saya langsung tak mampu bernapas.
DARI ATAS JATUH SEBUAH AMPLOP RAKSASA BERISI TULISAN RP. 250.000.000. DUA RATUS LIMA PULUH JUTA RUPIAH. TULISAN MELAYANG SETINGGI DADA DI DEPANNYA. IA GEMETAR.
Tebal, coklat, apalagi di tas amplop itu tertera 250.000.000. Dua ratus lima puluh juta. Ya Tuhan banyaknya. Saya belum pernah memegang uang sebanyak ini. Dua ratus lima puluh juta?
MENGHAMPIRI AMPLOP. MENYENTUH DENGAN GEMETAR, TAK PERCAYA, RAGU-RAGU, GEMBIRA, KEMUDIAN MEMEGANGNYA.
Dua ratus lima puluh juta. Dua ratus lima puluh kali hidup lagi juga saya tidak akan sanggup mengumpulkan uang sebanyak ini. Ya Tuhan, alangkah miskinnya saya. Mengapa tiba-tiba saya dihujani rizki sebanyak ini.
MEMELUK AMPLOP ITU. MENGANGKATNYA. MENJUNJUNGNYA. MEMBAWANYA KE SANA KEMARI. KEMUDIAN MENGEKEPNYA. LALU MENARIKNYA KE BAWAH. MEMELUKNYA. SEPERTI KUCING YANG BERMAIN-MAIN DI ATAS KERTAS, IA TERLENTANG, TENGKUREP DI ATAS UANG ITU SAMBIL MENCIUM-CIUMNYA. KEMUDIAN IA MASUK KE DALAM AMPLOP, SEPERTI ANJING YANG MENGOREK-OREK TONG SAMPAH DENGAN BERNAFSU DAN NGOS-NGOSAN. AKHIRNYA IA MENGGULUNG DIRINYA DENGAN AMPLOP UANG ITU.
Dua ratus lima puluh juta. Apa yang tidak bisa dibeli dengan uang sebanyak itu. Alhamdulillah! Saya bisa perbaiki rumah, kredit motor, jadi tukang ojek, bayar SPP. Saya bisa kirim uang sama orang tua.
Puji syukur Tuhan, akhirnya Kau kabulkan doa kami setiap malam, supaya bisa mengubah nasib, jangan terus terjepit di tempat kumuh ini seperti kecoa.
MENGANGIS KARENA GEMBIRA DAN TIDAK PERCAYA. KEMUDIAN DIA BERDIRI KEMBALI DAN MEMELUK AMPLOP BESAR ITU, SAMA SEKALI TAK MAMPU MELEPASKANNYA.
Saya gemetar. Saya tak menanyakan lagi berapa isi amplop itu. Untuk apa 250 juta itu. Saya tidak perlu lagi menanyakannya. Saya hanya menerimanya, lalu menyambut uluran tangannya. Lantas terbirit-birit pulang. Takut kalau amplop itu ditarik lagi. Saya ambil jalan belakang, sehingga tak seorang warga pun tahu saya barusan datang dari rumah direktur.
Saya kumpulkan keluarga saya dan menjelaskan kepada mereka, bahwa sejak hari itu hidup kami akan berubah. Doa kita sudah dikabulkan.
MELEPASKAN KEMBALI AMPLOP. AMPLOP BESAR NAIK KEMBALI, MELAYANG DI ATAS KEPALANYA.
Esok harinya, ketika para warga gang Gugus Depan kembali mendatangi saya untuk mendengarkan hasil rembukan saya dengan Pak Direktur untuk selanjutnya menetapkan tindakan apa selanjutnya yang harus dilakukan, saya memberi wejangan.
Saudara-saudara warga semuanya yang saya cintai. Memang berat kehilangan dua meter dari milik kita yang sedikit. Berat sekali. Bahkan terlalu berat. Tetapi itu jauh lebih baik daripada kita kehilangan nyawa. Lagipula semua itu untuk kepentingan bersama. Kita semua mendukung demokrasi dan sudah bertekad untuk mengorbankan apa saja demi tegaknya demokrasi. Di dalam demokrasi suara terbanyak yang harus menang. Maka sebagai pembela demokrasi, kita tidak boleh dongkol karena kalah. Itu konsekuensinya mencintai demokrasi. Demi demokrasi, kita harus merelakan dua meter untuk pembuatan jalan yang menunjang pembangunan ini. Demi masa depan kita yang lebih baik.
Seluruh warga yang saya pimpin tak menjawab. Seperti saya katakan, mereka semuanya pembela demokrasi. Kalau atas nama demokrasi, mereka relakan segala-galanya. Satu per satu kemudian mereka pulang.
Hei tunggu dulu, saya belum selesai berbicara!
Kuping mereka buntet. Tanpa peduli rapat belum rampung, semuanya pergi.
Tunggu! Tunggu!
Tak ada yang menggubris. Semuanya ngacir. Tinggal saya sendiri dan seorang tua. Tapi dia tidak pergi karena suka tapi karena kakinya semutan. Setelah reda dia juga berdiri dan pergi sambil ngedumel.
“Kalau memang demokrasi itu tidak melindungi kepentingan rakyat kecil, aku berhenti menyokong demokrasi. Sekarang aku menentang demokrasi!”
TERDENGAR SUARA SORAK DAN YEL-YEL YANG TIDAK JELAS. SEPERTI ADA KERIBUTAN. LALU SUARA TEMBAKAN. BARU SEPI KEMBALI.
Sejak saat itu semuanya benci kepada demokrasi. Sejak hari itu, warga RT Gugus Depan yang saya pimpin kompak menolak demokrasi. Hanya tinggal saya sendiri, yang tetap berdiri di sini. Teguh dan tegar. Tidak goyah oleh topan badai. Tidak gentar oleh panas dan hujan. Saya tetap kukuh tegak di atas kaki saya, apa pun yang terjadi siap mempertahankan demokrasi, sampai titik darah penghabisan.
Habis mau apa lagi? Siapa lagi kalau bukan saya? Daripada diberikan kepada orang lain?
DENGAN SUARA YANG GEMURUH AMPLOP BESAR ITU JATUH MENIMPA, DIIKUTI OLEH BANYAK AMPLOP LAINNYA YANG LEBIH BESAR, SEHINGGA IA JATUH DAN TERTIMBUN OLEH AMPLOP.

LAMPU MEREDUP DAN PADAM. SELESAI.